BERI AKU SENYUM
Sejak kita berbicara saat itu, sudah tidak pernah aku melihat senyum kamu. Sampai sekarang aku hanya bisa memandangmu. Sebenarnya aku ingin menyapa lebih dulu seperti yang kau katakan pada teman kamu, yang juga teman aku. Tapi aku gengsi saja duluan kalau menyapa dulu, apalagi kalau dilihat muka kamu itu cemberut terus. Sadar atau tidak sejak kita sama-sama menunggu. Rutinitas pertemuan kita sangat sering, bahkan pernah duduk bersampingan, berhadapan, saling membelakangi. Kata teman aku, kita ini terlalu sombong untuk saling mengalah. Entah berapa ini akan berlangsung, mudah-mudahan es yang ada padamu maupun yang ada padaku mencair. Jujur saja aku sudah bosan dengan keadaan ini. Aku ingin ajak kamu seperti dulu lagi jalan bareng, bisa ke rumah kamu lagi, kalau ketemu tidak ada beban. Tapi pasti kamu tidak mau karena takut rasa yang ada padaku muncul lagi. Kalau masalah itu, aku hanya bisa menguranginya tidak bisa menghilangkannya. Paling bisa aku hanya mampu menyimpannya dalam sekecil-kecilnya dalam hati. Aku ingin kamu tahu betapa sangat mencintai kamu. Selalu ingin membantumu dan menjagamu meskipun hanya sekecil debu. Selama kita bersama apa aku pernah membuatmu kecewa, marah, maupun merasa tidak nyaman. Kalau aku pernah, dengan serendah hati aku minta maaf. Walaupun sekarang kamu itu telah menjadi miliknya, entah siapa. Tapi semua itu tak penting, biar kamu memilihnya bukan diriku yang tidak sempurna dibanding dirinya. Bagiku asal kamu bahagia dengan pilihamu itu aku sudah senang. Sekarang yang aku inginkan hanya senyummu tersungging saat kita bertemu, paling tidak tundukan dagumu yang indah itu. Mudah-mudahan kamu rela melakukan untukku?
Sedikit tentang pemilik blog
Aku dilahirkan di Kandangan tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Alamat rumah … no… rt…jalan… Riwayat pendidikan hampir semua program pernah diikuti SDN … SLTP … SMKN 2 Kandangan. Kalau masalah sekolah kada kaya orang, sering bolos. Alhamdulillah bisa diterima di UNLAM.
Sebagai anak kuliah yang latar prodinya sejarah. Pandangan hidup pun berdasarkan sejarah. Masa lalu adalah penuh dengan kenangan yang baik, buruk, sedih, dan bahagia. Masa kini adalah kenyataan yang penuh pemikiran. Masa depan adalah penuh harapan untuk kehidupan lebih baik.
Itu dulu tentang saya…
DAMPAK DAN MANFAAT PERTAMBANGAN DI KALSEL
SUMBER DAYA ALAM KAL-SEL DALAM ERA KEBANGKITAN NASIONAL SERTA MANFAAT DAN DAMPAKNYA
Kekayaaan sumber daya alam di Indonesia sangatlah kaya. Baik yang ada di laut berupa ikan, terumbu karang, keindahan dasar lautnya. Kekayaan alam daratnya lebih banyak lagi, mulai dari flora, fauna, batu-batuan mulia, serta pertambangan. Secara objektif kekayaan alam tersebut dibagi 2: kekayaan alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Bila kita melihat Indonesia ini seperti zambrud di dunia. Saking suburnya apa saja yang ditanam akan tumbuh dengan baik. Pola kegiatan ekonomi di Indonesia sangat beragam, wisata sosial budaya, pertanian, perikanan, pertambangan. Sehingga kalau dilihat secara kekayaan yang ada di Indonesia seharusnya tidak ada orang miskin, karena semua yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan.
Kebanyakan daerah di Indonesia saat ini, sebagian besar sumber ekonominya mengandalkan sektor pertambangan, mulai dari Aceh sampai ke Papua. Sangat disayangkan pengelolaan sumber daya alam tersebut diserahkan kepada pihak swasta/asing. Pemerintahan daerah hanya menarik pajak dari apa yang diambil oleh pihak-pihak swasta/asing tersebut. Sadar apa tidak pengelolaan seperti itu harus dikelola oleh pemerintah daerah sendiri. Karena pajak yang diambil dari pertambangan tersebut tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan yang didapat oleh pihak tersebut. Kalau dihitung secara persentasi nilai uang pajak yang ditarik oleh pemerintah kecil sekali, bayangkan saja kalau pemerintah dapat uang pajak dari tambang Rp. 100 milyar pengelola tambang dapat membawa kekayaan hasil tambang senilai Rp. 1 triliyun, atau mungkin lebih besar lagi dari perkiraan saya. Saya lebih tertarik membahas pertambangan yang ada di Kalimantan, soal dampak dan manfaatnya.
Menurut saya pribadi, pertambangan pada wilayah Pulau Kalimantan khususnya Kal-Sel tidak sesuai dengan dampak yang ditimbulkan. Banyak jalan yang rusak, korban akibat kelalaian pengendara emas hitam sudah sangat banyak, dan yang paling riskan adalah dampak kesehatan bagi masyarakat rute lalu lintas tersebut. Secara ekonomi pertambangan emas hitam sangat menggiurkan masyarakat sekitar, karena dapat mengangkat ekonomi keluarganya. Orang-orang sekitar wilayah pertambangan bisa sugih manggasut karena adanya kegiatan ini, tetapi mereka tidak menyadari dampak panjangnya. Inilah kebodohan masyarakat kita, mereka terbuai akan materi sesaat.
Adanya pertambangan hanya akan menguntungkan orang-orang yang mempunyai modal besar. Untuk beberapa puluh tahun akan datang masyarakat memang mendapatkan keuntungan yang besar. Keluarga mereka bisa bekerja, dan terbalik dari keadaan mereka sebelumnya yang dulunya bekerja sebagai petani, berkebun, dan sebagainya. Mereka bisa membeli motor bahkan mobil, dan paling hebat mereka dapat membangun rumah dari batu. Pertambangan yang mereka buka, biasa dengan membuka lahan hutan lindung. Akibatnya hutan akan kehilangan fungsinya.
Hutan merupakan paru-paru dunia yang dapat menyeimbangkan oksegen di udara yang dibutuhkan oleh manusia dan hewan. Selain itu, hutan merupakan tempat hidup dan sumber makanan bagi manusia dan hewan. Fungsi lain hutan adalah sebagai penadah air hujan sehingga dapat meresap ke dalam tanah. Secara rinci hutan dapat berfungsi sebagai berikut:
· Memproduksi hasil hutan seperti kayu dan rotan
· Mengatur keberadaan air di muka bumi ini
· Mengatur kesuburan tanah
· Mempengaruhi unsur-unsur klimatogis seperti hujan, suhu, panas matahari, angin dan kelembaban
· Menampung hewan dan tumbuhan di bumi
Karena hutan menjadi sumber utama kebutuhan manusia dan mudah didayagunakan oleh manusia maka hutan telah banyak mengalami kerusakan. Bentuk kerusakan hutan ini yang di akibatkan oleh kegiatan manusia, seperti pengalihan fungsi hutan untuk menjadi daerah pertambangan (legal mening maupun ilegal mening), serta ilegal logging akibat terjadi penyempitan lahan. Menurut para ahli lingkungan saat ini setiap satu menit sekitar 22 hektar hutan tropis di dunia musnah di antaranya sebagian hutan di Sumatera dan Kalimantan. Setiap tahun, sekitar enam juta hektar hutan berubah menjadi lahan kritis.
Jadi, jangan heran kalau daerah-daerah yang dulunya tidak mendapat bencana kini mengalami bencana. Bukan tanpa sebab, ini akibat oleh kepentingan manusia itu sendiri. Ekosistem alam mereka ganggu, sehingga dahulunya hutan yang berfungsi menyimpan air di daerah aliran sungai (DAS), seperti kawasan pahuluan sudah mulai gundul. Sehingga hutan tidak berfungsi baik. Bahkan, kalau dibandingkan dengan zaman sebelum kemerdekaan atau tepatnya masa Kolonial Belanda, lebih masa kolonial dalam pengelolaan alam. Sekejam-kejamnya orang Belanda pada masa nenek moyang kita, lebih kejam orang-orang pribumi sekarang dalam pengelolaan alam.
Orang Belanda dalam mengekpolisasi kekayaan tambang di daerah Banjar masih memperhatikan kondisi lingkungan alam, dengan membuka lahan di daerah pegunungan di Pengaron. Sekarang pertambangan di Kal-Sel terutama batu bara sudah sangat memprihatinkan, hampir semua kabupaten sudah di kapling tanah-tanahnya oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam hal tambang. Mereka tidak peduli akan kelestarian lingkungan hidup, tambang batu bara yang sudah habis ditinggalkan begitu saja. Kata orang, yang melihat hutan kalimantan dari pesawat sudah tidak hijau lagi. Banyak daerah hutan sudah gundul, baik karena akibat ilegal logging maupun bekas area pertambangan.
Seperti kata sebuah artikel pada rubrik disebuah koran. Masyarakat kita tidak perlu kaya mendadak tetapi mengorbankan lingkungan dan membuat anak cucu kita menderita, apalagi yang kaya cuma sebagian orang. Dalam era Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional, untuk para pemimpin daerah janganlah terlalu menguras tambang batu bara yang ada di bumi kalimantan selatan ini. Boleh saja memanfaatkan sumber daya alam yang ada, tetapi harus penyeimbangannya. Jangan sampai daerah Kalimantan Selatan ini menjadi gurun pasir seperti di Afrika. Dan jangan hasil tambang alam ini di manfaatkan untuk kepentingan sendiri. Lebih baik digunakan untuk keperluan dalam daerah misalnya untuk bahan bakar listrik yang sering byar-pet.
Masyarakat Kal-Sel jangan terbuai akan keuntungan yang diberikan para pengusaha, baik itu pemerintahnya dan masyarakat sekitarnya. Kalau kita berpikir panjang pastilah kita tidak akan mengizinkan ekplolisasi kekayaan hasil tambang yang ada di daerah kita masing-masing. Secara ekonomi jangka pendek masyarakat banyak mengalami untung dari para penambang tersebut. Dengan pendekatan agama, para penambang tersebut membuat simpati warga masyarakat sekitar area pertambangan, mereka mendekati tokoh ulama dan tokoh masyarakat. Mereka membantu pembuatan mesjid, langgar, mushala, pesantren, dan lain-lain.
Lalu dimana letak masalahnya akan merugikan masyarakat, sedangkan dengan adanya kegiatan tersebut akan meningkatkan aktifitas keagamaan. Sekarang masyarakat dan pemerintah setempat harus berpikir, berapa anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan tempat ibadah tersebut yang keluar keluar dari para bos besar tambang. Kecil sekali dari keuntungan yang mereka dapat. Setelah masyarakat terbuai akan kenikmatan materi sesaat, para bos semakin kaya dengan menguras habis sumber daya alam yang ada di Kal-Sel ini. Mereka membeli apartemen, membangun rumah mewah pulau Jawa, dan berinvestasi dibidang lain.
Masyarakat tidak tahu berapa kekayaan daerah mereka telah dikeruk. Yang pasti mereka dapat hidup dengan nyaman dalam rumah batu mereka, bisa makan dengan enak, tidur ditempat tidur mewah (spring bed), bisa beli mobil. Setelah beberapa puluh tahun, alam mereka telah habis tambangnya, hutan mereka hancur, banyak lubang-lubang galian bekas area tambang. Lalu mereka pun kini telah berhenti sebagai pekerja tambang karena tidak ada lagi aktifitas pertambangan lagi. Uang pesangon mereka hanya cukup untuk 1 atau 2 tahun. Mobil yang dulu mereka beli dijual karena tidak sanggup lagi untuk membiayai pajak serta perawatannya.
Inilah kenyataan yang mereka hadapi, anak-cucu mereka menderita karena olah mereka sendiri. Mereka menikmati bencana yang dibuat sendiri, musim hujan kebanjiran musim kemarau kekeringan. Sedangkan para bos tambang dengan enaknya duduk-duduk, makan enak, jalan-jalan dengan hasil investasi mereka. Mereka hidup dengan nyaman di pulau Jawa, sedangkan kita hanya menikmati penderitaan, karena tidak pindah lagi. Mari masyarakat Kal-Sel jangan biarkan orang-orang luar mengelola tambang kita, mereka hanya ingin menguras kekayaan saja. Bukan ingin memajukan daerah Kal-Sel. Ayo bangkit masyarakat Banjar.
Kebudayaan Daerah Dan Kebudayaan Nasional
5.7 Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional
Kebudayaan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang khas yang terdapat pada wilayah tersebut. Kebudayaan daerah di Indonesia di Indonesia sangatlah beragam. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan daerah sama dengan konsep suku bangsa. Suatu kebudayaan tidak terlepas dari pola kegiatan masyarakat. Keragaman budaya daerah bergantung pada faktor geografis. Semakin besar wilayahnya, maka makin komplek perbedaan kebudayaan satu dengan yang lain. Jika kita melihat dari ujung pulau Sumatera sampai ke pulau Irian tercatat sekitar 300 suku bangsa dengan bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda.
Konsep Suku Bangsa / Kebudayaan Daerah. Tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat yang dapat berwujud sebagai komunitas desa, sebagai kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Sebaliknya, terhadap kebudayaan tetangganya, ia dapat melihat corak khasnya, terutama unsur-unsur yang berbeda menyolok dengan kebudayaannya sendiri. Pola khas tersebut berupa wujud sistem sosial dan sistem kebendaan. Pola khas dari suatu kebudayaan bisa tampil karena kebudayaan itu menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus yang tidak terdapat pada kebudayaan lain.
Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan, yang tercermin pada pola dan gaya hidup masing-masing. Menurut Clifford Geertz, di Indonesia terdapat 300 suku bangsa dan menggunakan kurang lebih 250 bahasa daerah. Akan tetapi apabila ditelusuri, maka sesungguhnya berasal dari rumpun bahasa Melayu Austronesia. Kriteria yang menentukan batas-batas dari masyarakat suku bangsa yang menjadi pokok dan lokasi nyata suatu uraian tentang kebudayaan daerah atau suku bangsa (etnografi) adalah sebagai berikut:
· Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih.
· Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh identitas penduduk sendiri.
· Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh wilayah geografis (wilayah secara fisik)
· Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologis.
· Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mempunyai pengalaman sejarah yang sama.
· Kesatuan penduduk yang interaksi di antara mereka sangat dalam.
· Kesatuan masyarakat dengan sistem sosial yang seragam.
Perbedaan-perbedaan ini menimbulkan berbagai kebudayaan daerah yang berlainan, terutama yang berkaitan dengan pola kegiatan ekonomi mereka dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan untuk mendukung kegiatan ekonomi tersebut (cultural activities), misalnya nelayan, pertanian, perdagangan, dan lain-lain. Pulau yang terdiri dari daerah pegunungan dan daerah dataran rendah yang dipisahkan oleh laut dan selat, akan menyebabkan terisolasinya masyarakat yang ada pada wilayah tersebut. Akhirnya mereka akan mengembangkan corak kebudayaan yang khas dan cocok dengan lingkungan geografis setempat.
Dari pola kegiatan ekonomi kebudayaan daerah dikelompokan beberapa macam.
· Kebudayaan Pemburu dan Peramu
Kelompok kebudayaan pemburu dan peramu ini pada masa sekarang hampir tidak ada. Kelompok ini sekarang tinggal di daerah-daerah terpencil saja.
· Kebudayaan Peternak
Kelompok kebudayaan peternak/kebudayaan berpindah-pindah banyak dijumpai di daerah padang rumput.
· Kebudayaan Peladang
Kelompok kebudayaan peladang ini hidup di daerah hutan rimba. Mereka menebang pohon-pohon, membakar ranting, daun-daun dan dahan yang ditebang. Setelah bersih lalu ditanami berbagai macam tanaman pangan. Setelah dua atua tiga kali ditanami, kemudian ditinggalkan untuk membuka ladang baru di daerah lain.
· Kebudayaan Nelayan
Kelompok kebudayaan nelayan ini hidup di sepanjang pantai. Desa-desa nelayan umumnya terdapat di daerah muara sungai atau teluk. Kebudayaan nelayan ditandai kemampuan teknologi pembuatan kapal, pengetahuan cara-cara berlayar di laut, pembagian kerja nelayan laut.
· Kebudayaan Petani Pedesaan
Kelompok kebudayaan petani pedesaan ini menduduki bagian terbesar di dunia. Masyarakat petani ini merupakan kesatuan ekonomi, sosial budaya dan administratif yang besar. Sikap hidup gotong royong mewarnai kebudayaan petani pedesaan.
Erat hubungan antara kebudayaan dengan masyarakat dinyatakan dalam kalimat, “masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan, sehingga tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan. Sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya”. Dalam pengertian kebudayaan daerah sangatlah sulit, karena mencakup lingkup waktu dan lingkup daerah geografisnya. Dalam lingkup waktu dan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang belum dapat pengaruh asing dari manapun, baik Hindu-Budha, Islam dan Barat. Kebudayaan asli Indonesia menurut Van Leur ada 10 macam kebudayaan asli:
· Kemampuan Berlayar
Menurut teori pada umumnya, bangsa Indonesia berasal dari Vietnam sebagai daerah kedua, sebelumnya dari tiongkok selatan penyebarannya tentulah mepergunakan tata pelayaran. Daerah yang dijelajahinya sampai pada Madagaskar. Sangat mungkin untuk jarak dekat dilakukan dengan menggunakan rakit sederhana, sedangkan jarak jauh menggunakan perahu yang bercadik. Cadik (outriggers) dibuat dari kayu (bamboo) dipasang kiri kanan perahu, fungsinya mengurangi olengan di laut, inilah salah satu ciri budaya orang-orang yang berbahasa Austronesia.
· Kepandaian Bersawah
Budaya bersawah telah dikenal sejak zaman neolitikom. Kemudian di perbaharui dengan kebudayaan perungu, sehingga pengolahan sawah lebih intesif.
· Astronomi
Pengetahuan perbintangan (astronomi) secara sederhana telah dikenal dalam hubungannya untuk pelayaran demi mengenal arah,atau pun untuk pertanian. Untuk pelayaran dipergunakan Gubug Penceng (Zuider Kruis) guna tahu arah selatan, sedangkan untuk pertanian di kenal Bintang Waluku (Grote Beer) yang bila sudah tampak waktu tertentu berarti dimulaiinya melakukan cocok tanam di sawah.
· Mengatur Masyarakat
Adanya pimpinan terpilih dari masyarakat (primus inter pares). Orang mempunyai kemampuan paling baik diantara masyarakat yang ada.
· Sistem Macapat
Macapat berarti cara yang didasarkan pada jumlah empat dalam pengaturan masyarakat. Pemimpin berada ditengah antara Barat, Timur, Selatan, dan Utara. Pada masa sekarang dikonsepkan sebagai alun-alun yang terdapat semua daearah.
· Wayang
Wayang pada mulanya merupakan sarana untuk upacara kepercayaan. Nenek moyang yang telah meninggal dibuatkan arca perwujudan. Boneka perwujudan dimainkan dengan iringan cerita dan nasehat.
· Gamelan
Gamelan merupakan perlengkapan peralatan dalam upacara adat.
· Batik
Seni batik dibuat pada kain putih dengan mempergunakan canting sebagai alat tulisnya, sehingga diperoleh batik tulis. Kebudayaan batik terdapat pada semua daerah dengan motif berbeda.
· Seni Logam
Kerajinan logam sejalan dengan budaya batik dan budaya gamelan sebagai sarana dua macam sarana tersebut.
· Perdagangan
Perdagangan pada daerah-daerah kebudayaan dengan pola sama yaitu sistem barter.
Pada garis besarnya sistem kekerabatan dalam masyarakat suku-suku bangsa Indonesia memakai sistem kekerabatan bilateral, yaitu sistem kekerabatan yang mendasarkan garis keturunan dari ayah dan garis ibu secara berimbang. Anak-anak yang lahir dapat masuk ke dalam kerabat ayahnya dan kerabat ibunya secara bersama-sama. Sistem inilah yang banyak berlaku pada kebudayaan daerah di Indonesia. Sebagian kecil kebudayaan daerah dalam sistem kekerabatan unilateral matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang hanya berdasarkan garis ibu saja (contoh masyarakat Minangkabau). Kebudayaan daerah lainnya memakai sistem kekerabatan unilareal patrineal, yaitu sistem kekerabatan yang berdasarkan garis ayah saja.
Dari uraian diatas kebudayaan daerah secara pengertian tidak akan terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada. Tetapi dari berbagai corak kebudayaan tersebut, terdapat persamaan yang mendasar. Yaitu mengenai tentang upacara keagamaan semua suku bangsa, mementingkan upacara-upacara adat yang bersifat religi. Suku bangsa tersebut lebuh suka unsur mistik daripada berusaha dalam mencapai tujuan materiil mereka. Hal yang berhubungan dengan unsur mistik dianut oleh semua kebudayaan daerah yang ada di Indonesia.
Masih percaya pada takhayul. Dulu dan sekarang masyarakat daerah di Indonesia percaya kepada batu, gunung, pantai, sungai, pohon, patung, keris, pedang, dan lainnya, mempunyai kekuatan gaib. Semua itu dianggap keramat dan manusia harus mengatur hubungan dengan baik dengan memberi sesaji, membaca do’a dan memperlakukannya dengan istimewa. Manusia Indonesia sering kali menghitung hari baik, bulan baik, hari naas, dan bulan naas, mereka juga percaya akan adanya segala macam hantu, jurig, genderowo, makhluk halus, kuntilanak, dan lain-lain. Likantropi, kepercayaan bahwa manusia dapat mejelma menjadi binatang tertentu menyebar di nusantara.
Kebudayaan Nasional. Menurut pandangan Ki Hajar Dewantara tentang kebudayaan nasional yang katanya “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Faham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, bahasa nasional. Sebelum Sumpah Pemuda (1928), Indonesia terdiri dari macam-macam “bangsa” yang sebenarnya hanya ditingkat suku bangsa. Setelah itu secara berangsur makin kuat rasa kebangsaan Indonesia (Indonesia Raya), sehingga waktu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945), sudah dinyatakan bahwa proklamasi tersebut dilakukan atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno-Hatta.
Koentjaraningrat menyebutkannya “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”.pengertian yang dimaksudkan itu sebenarnya lebih berarti, bahwa puncak-puncak kebudayaan daerah atau kebudayaan suku bangsa yang bermutu tinggi dan menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia bila ditampilkan untuk mewakili negara (nation). Misalnya: tari Bali, di samping orang Indonesia merasa bangga karena tari itu dikagumi di negeri, seluruh dunia juga mengetahuinya. Bali itu letaknya di Indonesia jadi kesenian itu dari Indonesia. Dalam hal ini juga berlaku bagi cabang-cabang kesenian lain bagi berbagai suku bangsa di Indonesia.
Dengan beribu-ribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup diberbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing-masing. Hal tersebut membawa akibat pada adanya perbedaan latar belakang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakatnya. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam latar belakang budaya, etnik, agama yang merupakan kekayaan budaya nasional dengan kata lain bisa dikatakan sebagai masyarakat multikultural.
Secara fisik penduduk Indonesia dibagi menjadi beberapa golongan :
· Golongan orang Papua Melanosoid. Golongan penduduk ini bermukim di pulau Papua, Kei, dan Aru. Mereka mempunyai ciri fisik seperti rambut keriting, bibir tebal, dan berkulit hitam.
· Golongan orang Mongoloid. Berdiam di sebagian besar kepulauan Indonesia, khususnya di kepulauan Sunda Besar (kawasan Indonesia barat), dengan ciri-ciri rambut ikal dan lurus, muka agak bulat, kulit putih hingga sawo matang.
· Golongan Vedoid, antara lain orang-orang Kubu, Sakai, Mentawai, Enggano, dan Tomura, dengan ciri-ciri fisik bertubuh relatif kecil, kulit sawo matang, dan rambut berombak.
Dari perbedaan golongan tersebut, ada pola sistem yang khas dari bangsa Indonesia. Untuk kebudayaan nasional bisa dihubungkan dengan kebudayaan timur yang menjadi dasar landasan kebudayaan daerah. Kebudayaan nasional dapat dilihat dari pola sistem hidup masyarakatnya, seperti sifat keramah-tamahan, kekeluargaan, kerakyatan , kemanusiaan dan gotong royong. Sifat-sifat inilah yang dapat dilihat dari kebudayaan nasional yang dilihat oleh bangsa lain sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Meskipun gotong royong setiap daerah istilahnya berbeda, tetapi secara pengertian sama artinya. Bangsa Indonesia mempunyai peribahasa berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama rata sama rasa. Ungkapan ini mencerminkan bangsa Indonesia sejak dulu menjunjung tinggi kebersamaan dalam melaksanakan pekerjaan, dan menikmati hasilnya
Ass. EWA
Ethnography menurut pemahaman saya adalah tulisan tentang keadaan suatu bangsa yang ditulis oleh para penjelajah dari Barat. Mereka melihat suatu keanehan pada daerah yang mereka datangi. Baik dari kebudayaan, fisik, sifat, dll. Dari sinilah Ethnography muncul.
Ethnography pada fase pertama hanya bertujuan untuk menjelaskan keadaan tentang suatu daerah secara umum. Fase kedua tujuan mempelajari kebudayaan untuk dimanfaatkan, misalnya untuk penjajahan. Fase ketiga hanya untuk belajar, tanpa tujuan. Fase keempat kebudayaan dipelajari untuk membangun masyarakat.
Ass… EWA
Pada dasarnya kebudayaan berasal dari kepribadian induvidu. Ini dibentuk dari sejak kecil pada lingkungan keluarga. Bagaimana cara orang tua atau kakak mereka makan, bicara, bersikap. Individu akan menirunya…
Pada skala yang lebih besar. Kepribadian akan dibentuk oleh lingkungan masyarakat. Keadaan ini akan membentuk kebudayaan yang menjadi pola pikir masyarakat atau sosial sistem. Pada akhirnya kebudayaan ini menumpuk (akumulatif). Sehingga keluar sebagai aktifitas dan hasil hingga dapat di pelajari, dilihat, atau diraba.
begitu loe kata saya.
Ass… EWA
Wah soal kepribadian. Menurut buku yang saya baca, kepribadian/personality dibagi menjadi beberapa:
1. Kepribadian yang tersembunyi “bawah sadar” yang sewaktu-waktu bisa keluar dan meledak tanpa disadari.
2. Kepribadian yang tersembuyi “sadar”. Tetapi hanya disimpan tidak dikeluarkan. Karena mungkin tidak menemukan kata-kata yang cocok untuk mengungkapkannya. Bisa juga malu karena bila diungkapkan tidak diterima atau diremehkan.
3. Kepribadian yang tersembunyi “keluar” biasanya diungkapkan pada orang tua, saudara, keluarga, sahabat. Yang dianggap akan dapat memberikan solusi atau saran.
4. Kepribadian yang ditampilkan. Ini ditunjukkan agar mendapat simpati. Misalnya seorang mahasiswa pada dosennya, murid kepada gurunya, teman kepada temannya, dll. Agar mendapat keuntungan dari sikapnya itu.
Ehm, Ehm, Ehm.
Ass… EWA
Difusi atau tersebarnya unsur-unsur kebudayaan ke segala penjuru bumi ini. Ada yang bisa kita sadari maupun tidak. Seperti kata EWA kita begitu bangga dengan apa-apa yang namanya berbau asing, entah makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain. Difusi dapat dilihat dari cara penyebaran dan sifat kebudayaan itu sendiri.
Difusi ada yang sifatnya sama atau tidak berubah bentuk kebudayaan dari tempat asalnya. Yang seperti ini dinamakan hubungan symbiotic. Bentuk yang seperti ini banyak kita temukan di kawasan Afrika, hubungan antara suku-suku bangsa Afrika dengan suku-suku bangsa Negrito. Di sini suku Negrito hidup dari meramu dan berburu sedangkan suku Afrika hidup dari berladang. Mereka saling bertukar hasil berburu dengan hasil ladang tanpa terjadinya proses pengaruh kebudayaan.
Ada lagi proses stimulus diffusion, penyebaran unsur-unsur kebudayaan ini berlangsung dengan perantara kelompok lain. Kelompok pemilik kebudayaan ini malah tidak berhubungan langsung dengan kelompok yang menerima kebudayaan tersebut. Kelompok yang menerima kebudayaan menyebarkan lagi pada kelompok lainnya. Sehingga terjadi difusi yang meliputi jarak yang besar melalui rangkai pertemuan deret suku-suku bangsa. Terima kasih. Wass.
Assalamu’alaikum….. EWA
Mudahan saja tulisan saya tambah bagus dari yang pertama. Kalau melihat dari ilutrasi EWA tentang tiga wujud kebudayaan yaitu ideas, activities, dan artifacs. Yang EWA gambarkan dalam bentuk kebudayaan korupsi. Bahwa kebudayaan itu sudah ditanamkan sejak kita masih minum ASI. Lalu setelah besar, kita bawa pada kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Setelah menjadi manusia, akan terus terbawa pada hasil yang kita capai. Terlepas apakah budaya itu baik atau buruk bagi kita.
Kebudayaan adalah warisan sosial dari anggota-anggota masyarakat. Kebudayaan memang hal sulit untuk diubah. Apalagi telah menjadi milik sekelompok orang. Kita sulit mengubahnya, karena kebudayaan tersebut sudah mengakar pada pikiran orang-orang ini. Saya salut pada orang yang bisa mengubah suatu kebudayaan kurang baik menjadi baik. Kebudayaan yang baik bagi sekelompok orang belum tentu baik bagi kita.
Menurut saya pribadi, mungkin ada yang setuju maupun tidak. Hampir sebagian mahasiswa, memiliki kebudayaan tidak baik seperti membuat krepian dan nitip absen. Mungkin ini adalah warisan dari kakak senior mereka. Ini sangat tidak layak dilakukan, para mahasiswa sering menyuarakan hapus korupsi, berantas korupsi, adili koruptor, dll. Padahal ia sendiri secara tidak sadar telah korupsi absen. Maaf saja buat yang merasa.
Setelah mereka menjadi sarjana, lalu mereka menjabat sebagai kepala-kepala bagian, staf, maupun biasa saja. Kebudayaan ini terus dan terus terbawa. Bisa kita lihat pada sebuah acara tv, bagaimana para bapak dan ibu pegawai negeri yang keluyuran pada jam kerja. Isi absen pagi, lalu pergi entah kemana. Gampang-gampang susah buat mengubah kebudayaan yang tidak baik, mulailah dari kita sendiri. Oke….
reduanebarkaoi@yahoo.co.id