BERI AKU SENYUM
Sejak kita berbicara saat itu, sudah tidak pernah aku melihat senyum kamu. Sampai sekarang aku hanya bisa memandangmu. Sebenarnya aku ingin menyapa lebih dulu seperti yang kau katakan pada teman kamu, yang juga teman aku. Tapi aku gengsi saja duluan kalau menyapa dulu, apalagi kalau dilihat muka kamu itu cemberut terus. Sadar atau tidak sejak kita sama-sama menunggu. Rutinitas pertemuan kita sangat sering, bahkan pernah duduk bersampingan, berhadapan, saling membelakangi. Kata teman aku, kita ini terlalu sombong untuk saling mengalah. Entah berapa ini akan berlangsung, mudah-mudahan es yang ada padamu maupun yang ada padaku mencair. Jujur saja aku sudah bosan dengan keadaan ini. Aku ingin ajak kamu seperti dulu lagi jalan bareng, bisa ke rumah kamu lagi, kalau ketemu tidak ada beban. Tapi pasti kamu tidak mau karena takut rasa yang ada padaku muncul lagi. Kalau masalah itu, aku hanya bisa menguranginya tidak bisa menghilangkannya. Paling bisa aku hanya mampu menyimpannya dalam sekecil-kecilnya dalam hati. Aku ingin kamu tahu betapa sangat mencintai kamu. Selalu ingin membantumu dan menjagamu meskipun hanya sekecil debu. Selama kita bersama apa aku pernah membuatmu kecewa, marah, maupun merasa tidak nyaman. Kalau aku pernah, dengan serendah hati aku minta maaf. Walaupun sekarang kamu itu telah menjadi miliknya, entah siapa. Tapi semua itu tak penting, biar kamu memilihnya bukan diriku yang tidak sempurna dibanding dirinya. Bagiku asal kamu bahagia dengan pilihamu itu aku sudah senang. Sekarang yang aku inginkan hanya senyummu tersungging saat kita bertemu, paling tidak tundukan dagumu yang indah itu. Mudah-mudahan kamu rela melakukan untukku?