Nama : Riduan Saidi
NIM : A1A106048
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Indonesia
1. Pendidikan Islam yang dikembangkan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan sejak masa Kolonial (1900an) adalah merupakan sebuah resistensi (perlawanan), kesadaran modernitas (adaptasi) dan sekaligus sebagai kesadaran membangun identitas (jatidiri bangsa), jelaskan maksud pernyataan tersebut?
Jawaban :
Berdasarkan pertanyaan di atas yang dimaksud dari resistensi (perlawanan), kesadaran modernitas (adaptasi) dan sekaligus sebagai kesadaran membangun identitas (jatidiri bangsa) pada pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, yakni:
a. Resistensi (perlawanan). Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan merupakan pendidikan yang sudah berkembang sebelum adanya bangsa Kolonial, yaitu pendidikan secara tradisional yang dimana pendidikan ini dilakukan di tempat tuan guru (rumah guru yang mengajar), di surau-surau / langgar, dan juga di pesantren-pesantren. Kemudin setelah masuknya pendidikan umum yaitu pendidikan yang berasal dari bangsa Kolonial, maka pendidikan Islam menjadi semakin di persempit keberadaanya, hal ini terbukti dengan adanya diantara kebijakan pemerintah kolonial dalam pengawasan pendidikan Islam adalah diterbitkannya “ordonasi Guru” ordonasi pertama yang dikeluarkan tahun 1905 mengharuskan setiap guru agama Islam untuk meminta dan memperoleh izin terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugasnya menjadi guru Agama. Sedangkan ordonasi kedua yang dikeluarkan pada tahun 1925 hanya mewajibkan guru Agama untuk melaporkan diri. Kedua ordonasi ini dimaksudkan sebagai media pengontrol bagi pemerintah kolonial untuk mengawasi sepak terjang para pengajar dari penganjur agama Islam di negeri-negeri Nusantara.
Kemudian dengan semakin berkembangnya organisasi islam di Kalimantan Selatan maka pendidikan Islam pun semakin bertambah Oleh sebab itu, perkembangan agama melalui pendidikan tradisional langgar kemudian diikuti oleh sistem pendidikan klasikal khususnya dilakukan oleh organisasi-organisasi keagamaan, diantaranya Madrasah Persatuan Perguruan Islam (PPI), Madrasah Syarikat Islam seperti Particuliere Hollands Inlandse School (PHIS) di Marabahan, Madrasah Musyawaratutthalibin, Sekolah-sekolah Muhammadiyah, Madrasah Darussalam di Martapura, Arabische School dan Normal Islam di Amuntai.
Jadi ini merupakan salah satu perlawanan terhadap keberadaan pendidikan umum dengan cara melalui pendidikan Islam yang seperti disebutkan di atas di Kalimantan Selatan.
b. Kesadaran modernitas (adaptasi). Melalui pendidikan umum maupun pendidikan yang berbasis islam kesadaran modernitas
2. Apa saja yang membedakan pada sistem pendidikan (model pengajaran, kurikulum, filosofi yang dibangun oleh pemerintah yang berkuasa) pada masa Kolonial Belanda dan Jepang?
Jawaban :
Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut:
(1) Pendidikan Dasar
Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara, berdiri tahun 1630); Dll.
(2) Sekolah Latin
Diawali dengan sistem numpang-tinggal (in de kost) di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.
(3) Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)
Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.
(4) Academie der Marine (Akademi Pelayanan)
Berdiri tahun 1743, dimaksudkan untuk mendidik calon perwira pelayaran dengan lama studi 6 tahun. Materi pelajarannya meliputi matematika, bahasa Latin, bahasa ketimuran (Melayu, Malabar dan Persia), navigasi, menulis, menggambar, agama, keterampilan naik kuda, anggar, dan dansa. Tetapi iapun akhirnya ditutup tahun 1755.
(5) Sekolah Cina
1737 didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.
(6) Pendidikan Islam
Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.
Pada akhir abad ke-18, setelah VOC mengalami kebangkrutan, kekuasaan Hindia Belanda akhirnya diserahkan kepada pemerintah kerajaan Belanda langsung. Pada masa ini, pendidikan mulai memperoleh perhatian relatif maju dari sebelumnya. Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain: (1) Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu agama tertentu; (2) Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung kepentingan kolonial; (3) Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.; (4) Pendidikan diukur dan diarahkan untuk melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial. Jadi secara tidak langsung, Belanda telah memanfaatkan kelas aristokrat pribumi untuk melanggengkan status quo kekuasaan kolonial di Indonesia.
Setelah Februari 1942 menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain: (1) Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda; (2) Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
(1) Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
(2) Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
(3) Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
(4) Pendidikan Tinggi.
Jepang juga memandang perlu melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu;
(2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang;
(3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang;
(4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta
(5) Olaharaga dan nyanyian Jepang. Sementara untuk pembinaan kesiswaan, Jepang mewajibkan bagi setiap murid sekolah untuk rutin melakukan beberapa aktivitas berikut ini: (1) Menyanyikan lagi kebangsaan Jepang, Kimigayo setiap pagi; (2) Mengibarkan bendera Jepang, Hinomura dan menghormat Kaisar Jepang, Tenno Heika setiap pagi; (3) setiap pagi mereka juga harus melakukan Dai Toa, bersumpah setia kepada cita-cita Asia Raya; (4) Setiap pagi mereka juga diwajibkan melakukan Taiso, senam Jepang; (5) Melakukan latihan-latihan fisik dan militer; (7) Menjadikan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam pendidikan. Bahasa Jepang menjadi bahasa yang juga wajib diajarkan.
3. Buat peta konsep (skema) lalu jelaskan tentang hubungan antara pendidikan dan munculnya kesadaran berbangsa? Dan mengapa kajian pendidikan pada periode awal abad XX merupakan hal penting untuk dijelaskan?
Jawaban membentuk organisasi
(Pendidikan)—————(Melahirkan)——————(Elit)—–
————-(Membentuk)——————(Organisasi)——————(Nasionalisme)
pada periode awal abad 20 merupakan hal penting untuk dijelaskan, karena pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata kelakuan seseorang atau kelompok orang dalam usaha medewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.


