Berbicara mengenai sejarah, maka kita akan membahas bagaimana sebuah peristiwa dimasa lalu ditulis kembali. Masalahnya bagaimana metode yang dipakai untuk menjelaskan atau memaparkannya cerita tersebut. Dalam hal ini ada pertentangan untuk menjelaskan peristiwa sejarah.
Pertama orang-orang yang menganut mazhab positifisme. Mereka menggunakan hukum-hukum alam dalam memaparkan sebuah fenomena sejarah. Bahwa peristiwa sejarah atau peristiwa sosial lainnya memiliki sifat generalisasi yang sama. Dan bisa dipakai dalam menganalisa semua peristiwa dengan hukum yang sama. Seperti lazimnya mereka pakai dalam menjelaskan semua fenomena alam. Apalagi jika membaca sebuah penulisan sejarah yang memakai Covering Law Mode (CLM). Para penganut mazhab ini sangat kental dalam memakai genaralisasi dengan memakai X1, X2, X3, dst sampai terjadinya sebuah Y (peristiwa).
Kedua para penentang positifisme, yaitu hermeneutic knowledge (paradigma interpretatif) maupun critical/ emancipatory (paradigma kritik). Mereka berpendapat bahwa sebuah peristiwa tidak bisa dilihat dari hal-hal yang tampak saja. Ada hal yang tersembunyi dari sebuah fenomena sosial secara umum atau fenomena sejarah secara khusus yang tidak bisa dipahami oleh hukum-hukum alam/eksa. Bagi penganut kedua mazhab ini tidak semua fenomena yang ada dalam kehidupan manusia dapat dianalisis dengan angka dan data.
Secara mendasar positifisme terlalu terikat dengan hukum umum yang dipakai dalam ilmu eksa. Serta cenderung menganalisa masalah dari satu pisau dan hanya membuat sebuah cerita sejarah berdasarkan pada satu sebab akibat (monokausalitas). Saya pribadi lebih dapat memahami sebuah eksplanasi sejarah dari berbagai sebab yang saling berkaitan yang menimbulkan peristiwa tersebut.
Dengan menggunakan berbagai kaca mata dalam menganalisa sebuah kejadian. Maka sebuah cerita sejarah akan menjadi lebih menarik dan lengkap. Menulis ataupun memaparkan peristiwa sejarah dari berbagai teori ilmu sosial membuat cerita sejarah lebih mudah dipahami. Mengapa sebuah peristiwa bisa terjadi.
Kita ambil contoh peristiwa reformasi 98 yang meruntuhkan orde baru. Dilihat dari gerak sejarah yang bersifat spiral maka terlihat pola dari timbul, berkembang, dan runtuh. Ataupun jika kita melihatnya dari gerak sejarah yang lain baik bersifat linear dan siklus. Tergantung bagaimana kita menjelaskannya.
Bila memakai sudut pandang multikausalitas terjadinya reformasi merupakan akumulatif dari sekian banyak masalah sosial yang terjadi pada masa orde baru. Jika menganalisa dari satu sisi saja, maka keberhasilan reformasi terlihat secara sepihak. Para mahasiswa mengklaim bahwa mereka yang berhasil menurunkan pemerintahan Orde Baru. Seperti yang tertulis pada awal paragraf tadi, runtuhnya Orde Baru dari sudut multikausalitas maka peran mahasiswa hanya menjadi salah satu sebab.
Dilihat dari berbagai kacamata (multikasaulitas) berhasilnya gerakan reformasi adalah sebagai berikut :
- Ekonomi
Krisis moneter dari luar tepat September 1997 di Thailand berimbas kepada ekonomi Indonesia. Dan menimbulkan krisis ekonomi kemudian berdampak menjadi krisis kepercayaan serta terus berlanjut menjadi krisis politik.
- Budaya
Rezim Orde Baru yang mempunyai sifat represif terhadap perlawanan-perlawanan dari bawah terhadap rezim yang berkuasa. Menimbulkan masalah baru yang siap meledak bila tekanan dari atas sudah berkurang atau tidak ada lagi. Karena akar masalahnya belum selesai.
- Sosial
Demontrasi massif mahasiswa yang bersatu dengan rakyat dan didukung elit-elit oposisi yang berpandangan reformis seperti Amien Rais terutama di Jakarta. Serta kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah sejak 1996.
- Politik
Berubahnya para teknorat Soeharto, dimana mereka mulai menarik dukungannya. Pada saat itu banyak menteri yang mengundurkan diri secara bersamaan. Paling penting adalah pecahnya kalangan elit pendukung Soeharto dari sipil maupun militer.
- Soeharto Pribadi
Kondisi kesehatan Soeharto yang menurun. Dan membuat ia harus meletakan jabatannya. Ada yang mengatakan lengser kprimbon, dimana kharisma mulai berkurang sinarnya dimata sebagian rakyat.
Lalu kita analisis lagi dari monokausalitas maka gerakan reformasi berhasil karena mahasiswa akan terlihat janggal. Bukankah pergerakan mahasiswa melawan rezim Orde Baru telah terjadi berulang kali antara lain peristiwa Malari 1974 dan Penyerbuan ITB 1978 oleh tentara, dst. Boleh dikatakan perlawanan mahasiswa berhasil digagalkan pemerintah. Jadi dengan multikausalitas dalam eksplanasi sejarah menjadikan sejarah lebih mudah dipahami.