Sabtu 5 Agustus 2006, hatiku tidak tenang karena hari ini pengumuman SPMB. Aku memang sudah terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan lulus karena program PMDK. Hari itu aku pergi ke rumah sepupu, menunggu koran langganan datang. Aku memang sudah tahu lulus SPMB dari SMS balasan yang dikirim B-Post. Tapi aku belum puas kalau belum membaca sendiri pengumuman tersebut. Setelah membaca koran ternyata aku lulus di Fakultas yang aku inginkan yaitu FKIP.
Kamis 31 Agustus 2006, hari pertama P2B aku anggap biasa saja karena tak ada yang istimewa, kalau ada tidak penting untuk ditulis. Jum’at 1 September 2006, hari kedua P2B hari ini diadakan senam bersama peserta P2B. Saat itu aku berkenalan dengan Aisyah, orang yang paling kupercaya. Dia berasalnya tidak jauh dari kotaku. Tidak terasa hari-hari menyenangkan tapi berat pun berlalu. Aku sudah resmi sebagai mahasiswa baru, dan kami pun memulai kuliah perdana dengan pembagian dosen Penasehat Akademik.
Rabu 6 September 2006, sebagai orang baru dalam kampus kami kebingungan dalam mencari ruang kuliah. Ada yang dapat ruangan, ada yang tidak ketemu, ada yang salah ruang. Dari sinilah aku bertemu orang memberikan semangat dalam hidupku. Karena salah ruangan, aku berkenalan dengan Rahma. Aku akan memberi sedikit gambaran bagaimana yang namanya Rahma. Awal ketemu orangnya sedikit sombong, sedikit lebih dari aku, kurus, wajahnya sedang-sedang saja. Awal bertemu, dia tidak sengaja salah masuk kelas. Waktu mata kuliah agama.
Rahma duduk di samping aku, pertama-pertama aku cuek saja sama dia. Lama-kelamaan tidak enak juga diaman-diaman. Aku buka pembicaraan kataku “Asalnya dari mana?“. Katanya “Gambut“, dekat saja kataku dalam hati. Kataku “Kamu jurusan apa?” katanya “Bahasa” kataku “Disini tidak jurusan Bahasa,tapi kamu disini saja kalau kamu cari jurusan kamu sudah terlambat juga!”. Habis itu aku ajak kenalan, lalu bicara soal macam-macam. Pokoknya apa yang dibicarakan sama dosen pengajar tidak tahu lagi. Dari sana aku mulai ada hati sama Rahma.
Rabu 13 September 2006, hari ini ada acara di Perpustakaan Umum tempatku kuliah. Di sana akan membahas tentang bagaimana cara menjadi anggota, mencari buku, meminjam buku dan lain. Aku benar-benar tidak menyangka bertemu untuk kedua kalinya, sama Rahma. Benar juga kata orang kalau sudah takdir pasti terjadi. Seperti biasa, kami bicara soal keadaan masing-masing.
Semester I, aku datang ke kelasnya buat bicara tapi tampak dia tidak peduli sama kehadiran aku. Saat itu aku mau minta nomor Hpnya, katanya”Aku tidak punya HP”. Setiap ada waktu, aku pasti usahakan untuk datang ketempat kuliahnya, buat melihat dia. Karena aku sering ke kelasnya, aku jadi dekat dengan anak bahasa. Meskipun dia terus cuek sama aku, aku tetap merasa nyaman karena bisa melihat Rahma secara langsung. Semester pun berlalu dengan cepat. Saat ini pengumuman nilai ujian, tak sengaja aku bertemu dengan Rahma. Dia lagi bingung bagaimana cara melihat nilai. Lalu aku tolong dia sambil menjelaskan cara mencari IP. Kata aku “Kalau mau tahu IP kita berapa catat dulu semua nilai yang didapat, lalu kali dengan bobot lalu di jumlahkan, habis itu dibagi jumlah SKS”. Saat itu aku sangat bahagia sudah bisa menolong Rahma, memang tidak seberapa.
Semester II, tidak terasa aku sudah enam bulan menjadi mahasiswa. Aku benar-benar menikmatinya, cuma ada yang aku sayangkan sampai sekarang belum menemukan belahan jiwaku. Bukannya tidak ada yang mau cuma tidak masuk yang aku idamkan, terus terang aku suka perempuan yang kurus dan sedikit lebih tinggi dari aku. Masalah wajah tidak jadi soal pokoknya sedang-sedang saja Kalau ada yang seperti Rahma orangnya, kalau ada pasti aku suka. Ayo siapa yang mau bantu cari?
Minggu 25 Februari 2007, hari ini aku mau mengerjakan tugas kelompok. Kami sedikit kebingungan dengan bahan. Aku coba meminjam bahan pada prodi lain, anak Bahasa juga. Katanya “Bukunya dipinjam sama Rahma”. Lalu aku minta nomor Rahma katanya”Aku tidak punya nomornya”. Akhirnya aku kembali kepada teman-temanku yang lagi menunggu bahan. Aku bilang”Bukunya dipinjam”. Kata teman aku”Sama siapa?”. Kataku “Sama Rahma”. Temanku bilang”Rasanya aku punya nomornya”. Aku benar-benar tidak sangka dapat nomor Rahma dari teman kelompokku.
Malam harinya aku SMS dia. Punya HP tidak bilang-bilang, sudah lupa sama aku. Padahal aku mau meminjam bahan untuk tugas. Dia balas SMS dari aku. Maaf, aku lupa beritahu kamu. Besok aku bawakan bukunya. Besok paginya aku bertemu dengan dia, aduh senangnya hati ini. Tiap malam aku selalu SMS dia, meskipun jarang dibalasnya. Tapi tidak masalah bagiku, yang penting aku sudah memberikan perhatian sama Rahma. Kalau ada pulsa lebih pasti aku telpon dia, bicara soal tempat tinggal, sekolah, teman, dll. Dan pembicaraan-pembicaraan yang ada, aku tahu rumahnya dekat rumah kakekku.
Rabu 14 Maret 2007, malam hari sekitar jam 09.10. Rencananya aku menyatakan perasaanku pada Rahma lewat telpon. Aku benar-benar bingung dan gugup mau bilang apa. Aku harus siapkan mental untuk mendengar jawaban. Detik-detik yang menegangkan itu berlalu, aku harus menerima kenyataan Rahma hanya mau jadi temanku. Ya sudah aku tidak bisa apa-apa. Tapi aku akan terus berusaha untuk bisa membuat dia jatuh hati padaku.
Selasa 20 Maret 2007, aku menghubungi Aisyah. Aku minta dia buat menemani aku ke rumah keluaganya Rahma. Dia pun menyanggupinya buat bantu aku. Rencananya kalau sudah tahu rumahnya aku gampang ke sana buat ajak jalan atau apa. Sore hari kami pun berangkat, ternyata lumayan jauh dan agak berbelok-belok untuk sampai rumahnya. Setelah itu kami pergi JJS, cari makan tanda terima kasih sama Aisyah.
Selasa 27 Maret 2007, habis kuliah aku coba ajak Rahma jalan. Dan dia mau, inilah pertama kali aku jalan sama dia. Ternyata Rahma bisa dijadikan sebagai teman jalan yang baik. Saat itu perasaanku bahagia karena bisa jalan bareng. Meskipun hanya sebagai teman, mungkin kapan-kapan status jalan sama dia bisa berubah. Seperti malam sebelumnya aku selalu menelpon, untuk dengar suaranya. Bila sudah mendengar suaranya aku bisa tidur dengan nyaman.
Jujur saja aku ingin lupakan dia dan terus berusaha untuk lupakan. Tiap selesai shalat, aku selalu berdo’a untuk diberikan kekuatan untuk melupakannya. Dan bila dia memang untukku maka bukakan hatinya untuk dapat menerima aku. Tapi kenyataannya aku selalu ingat Rahma terus. Aku bingung, tiap tidak memikirkannya selalu teringat wajahnya. Makin dipikirkan makin terbayang. Singkat cerita, langsung ke Semester III.
Semester III, empat hari lagi akan memasuki bulan puasa. Mulai siap-siap untuk menahan lapar dan haus. Bulan Ramadhan tahun ini adalah bulan puasa yang paling berkesan. Hampir tiap sore aku selalu datang ke rumahnya, untuk menunggu magrib/ngaburit atau sekedar melihat muka Rahma yang manis. Ajak dia shalat tarawih di Mesjid Raya, meskipun cuma satu kali. Semakin dekat dengan Idul Fitri aku makin sering ke rumah Rahma. Rasanya berat sekali berpisah. Aku masa bodoh saja, apa dia bosan sama kedatanganku. Hari kemenangan pun telah tiba. Aku pun memberi pesan selamat Idul Fitri buat Rahma.
Seminggu sesudah hari raya, aku datang ke tempatnya, tapi kata pamannya dia masih pulang kampung. Aku masih sering menghubungi dia, tapi tidak ada jawaban. Sudah hampir sebulan ini aku tidak pernah SMS, telpon, apalagi lihat Rahma. Rindu dan ingin bertemu pastilah. Sebenarnya ingin juga aku ke rumahnya, tapi aku tahan saja. Tidak tahu kenapa aku selalu ingat Rahma, aku tak bisa memikirkan perempuan lain. Karena bayangan dia selalu hadir. Rahma, bagaimana caranya lupakan kamu?
Sekarang aku lagi sibuk dan serius kerjakan tugas, tahu-tahu dan tiba-tiba dia SMS aku. Isi SMSnya minta maaf lagi. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah ganggu dia, bukan Rahma. Aku jadi memikirkan dia lagi apa dia kasih harapan atau memang mau minta maaf. Lihat saja dulu lebih baik mengerjakan tugas yang lagi banyak.
Senin 14 Januari 2008, Setelah sekian lama aku tidak ketemu sama dia. Aku mencoba ajak nonton. Ada lucu di sini, dia memilih judul film tanpa lihat pemainnya siapa. Pas nonton dia baru sadar kalau dia salah memilih film. Maunya nonton film Butterfly, saat nonton yang main bukan Andika Pratama. Aku tidak masalah mau film apa yang penting bisa sama-sama Rahma. Aku melihat masih ada harapan buat mengejar Rahma. Rencananya aku membuat kue ultah.
Kamis 7 Januari 2008, aku membuat kue khusus buat Rahma. Semuanya aku kerjakan sendiri, beli bahan, alat, lilin, kecuali memberi hiasan habis susah sekali. Semalaman aku membuatnya, yang pertama hancur, yang kedua lumayan, yang ketiga sempurna. Hari minggunya aku beri hiasan dengan bantuan berapa orang. Lumayan baguslah hasilnya, sebelum acara tiup lilin kue tidak akan aku potong.
Senin 11 Januari 2008, jam 12.30 adalah acara potong kue. Aku lihat dia terkesan sekali dengan acara yang kubuat ini. Habis acara ultah, kami mencari tiket film horor, biar seru . Pas nonton itu, ketahuan betapa manisnya Rahma kalau dipandang dari samping. Aduh Ya Allah Ya Rabbi, aku makin tidak bisa lupa dan makin penasaran untuk menaklukan hatinya yang agak keras.
Memang dunia tidak ada yang abadi, 3 hari habis nonton. Aku salah bicara terlalu memaksa dia buat bantu aku mengerjakan tugas. Besok ketemu di Kampus aku dicuekin padahal di sana mau minta maaf. Ya sudah, nanti saja minta maafnya. Besoknya lagi aku telpon dan sms, malah tidak diangkat dan dibalas. Yang jawab malah tantenya, katanya”Rahma sedang pergi, tidak tahu kemana”. Aku bingung harus bagaimana. Datang ke rumahnya tidak ada orangnya atau jangan-jangan dia lagi malas ketemu sama aku. Aku harus tahu rumah keluarganya yang satunya, aku merasa tidak enak saja kalau belum mendengar langsung kata maaf.
Hari ini aku jalan sama Aisyah. Katanya dia pernah ke rumah keluarganya tapi agak lupa. Jadi aku ajak dia pergi mudahan-mudahan ketemu apa yang dicari. Ternyata dia lupa nama gangnya apa. Kami pergi ke Mall, buat cuci mata. Di sini aku benar-benar tidak menyangka bertemu sama Rahma yang sedang jalan sama seorang laki-laki. Memang dia bukan pacar aku, tapi tetap saja hati ini sakit melihatnya. Aku tidak tahu laki-laki itu siapa, mungkin pacar, keluarga, atau orang yang sedang pedekatan sama Rahma. Saat itu aku benar-benar tidak karuan pokoknya rasa marah, cemburu, kecewa campur jadi satu. Tapi aku sadar tidak punya hak buat marah sama dia karena saat ini Rahma cuma teman.
Besok aku mau bicara sama Rahma soal ini. Biar aku bisa memilih buat kedepan masih mengejar dia atau pergi dari kehidupannya. Setelah tadi bicara semua yang ada di hati. Soal rasa cemburu, cinta yang masih terpendam, keinginan terus bersama. Aku tenang sekarang.
sungguh menyiksa didera perasaan. nah ketimbang menyesal mending baca-baca aja blog saya, dijamin perasaannya jadi tenang. hehehe… salam kenal kawan.
Wah udah lama banget blognya gak di update. Aisyah jangan2 udah lupa ama blog ini. Salam kenal. Mainlah ke blog saya.