DAMPAK DAN MANFAAT PERTAMBANGAN DI KALSEL
SUMBER DAYA ALAM KAL-SEL DALAM ERA KEBANGKITAN NASIONAL SERTA MANFAAT DAN DAMPAKNYA
Kekayaaan sumber daya alam di Indonesia sangatlah kaya. Baik yang ada di laut berupa ikan, terumbu karang, keindahan dasar lautnya. Kekayaan alam daratnya lebih banyak lagi, mulai dari flora, fauna, batu-batuan mulia, serta pertambangan. Secara objektif kekayaan alam tersebut dibagi 2: kekayaan alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Bila kita melihat Indonesia ini seperti zambrud di dunia. Saking suburnya apa saja yang ditanam akan tumbuh dengan baik. Pola kegiatan ekonomi di Indonesia sangat beragam, wisata sosial budaya, pertanian, perikanan, pertambangan. Sehingga kalau dilihat secara kekayaan yang ada di Indonesia seharusnya tidak ada orang miskin, karena semua yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan.
Kebanyakan daerah di Indonesia saat ini, sebagian besar sumber ekonominya mengandalkan sektor pertambangan, mulai dari Aceh sampai ke Papua. Sangat disayangkan pengelolaan sumber daya alam tersebut diserahkan kepada pihak swasta/asing. Pemerintahan daerah hanya menarik pajak dari apa yang diambil oleh pihak-pihak swasta/asing tersebut. Sadar apa tidak pengelolaan seperti itu harus dikelola oleh pemerintah daerah sendiri. Karena pajak yang diambil dari pertambangan tersebut tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan yang didapat oleh pihak tersebut. Kalau dihitung secara persentasi nilai uang pajak yang ditarik oleh pemerintah kecil sekali, bayangkan saja kalau pemerintah dapat uang pajak dari tambang Rp. 100 milyar pengelola tambang dapat membawa kekayaan hasil tambang senilai Rp. 1 triliyun, atau mungkin lebih besar lagi dari perkiraan saya. Saya lebih tertarik membahas pertambangan yang ada di Kalimantan, soal dampak dan manfaatnya.
Menurut saya pribadi, pertambangan pada wilayah Pulau Kalimantan khususnya Kal-Sel tidak sesuai dengan dampak yang ditimbulkan. Banyak jalan yang rusak, korban akibat kelalaian pengendara emas hitam sudah sangat banyak, dan yang paling riskan adalah dampak kesehatan bagi masyarakat rute lalu lintas tersebut. Secara ekonomi pertambangan emas hitam sangat menggiurkan masyarakat sekitar, karena dapat mengangkat ekonomi keluarganya. Orang-orang sekitar wilayah pertambangan bisa sugih manggasut karena adanya kegiatan ini, tetapi mereka tidak menyadari dampak panjangnya. Inilah kebodohan masyarakat kita, mereka terbuai akan materi sesaat.
Adanya pertambangan hanya akan menguntungkan orang-orang yang mempunyai modal besar. Untuk beberapa puluh tahun akan datang masyarakat memang mendapatkan keuntungan yang besar. Keluarga mereka bisa bekerja, dan terbalik dari keadaan mereka sebelumnya yang dulunya bekerja sebagai petani, berkebun, dan sebagainya. Mereka bisa membeli motor bahkan mobil, dan paling hebat mereka dapat membangun rumah dari batu. Pertambangan yang mereka buka, biasa dengan membuka lahan hutan lindung. Akibatnya hutan akan kehilangan fungsinya.
Hutan merupakan paru-paru dunia yang dapat menyeimbangkan oksegen di udara yang dibutuhkan oleh manusia dan hewan. Selain itu, hutan merupakan tempat hidup dan sumber makanan bagi manusia dan hewan. Fungsi lain hutan adalah sebagai penadah air hujan sehingga dapat meresap ke dalam tanah. Secara rinci hutan dapat berfungsi sebagai berikut:
· Memproduksi hasil hutan seperti kayu dan rotan
· Mengatur keberadaan air di muka bumi ini
· Mengatur kesuburan tanah
· Mempengaruhi unsur-unsur klimatogis seperti hujan, suhu, panas matahari, angin dan kelembaban
· Menampung hewan dan tumbuhan di bumi
Karena hutan menjadi sumber utama kebutuhan manusia dan mudah didayagunakan oleh manusia maka hutan telah banyak mengalami kerusakan. Bentuk kerusakan hutan ini yang di akibatkan oleh kegiatan manusia, seperti pengalihan fungsi hutan untuk menjadi daerah pertambangan (legal mening maupun ilegal mening), serta ilegal logging akibat terjadi penyempitan lahan. Menurut para ahli lingkungan saat ini setiap satu menit sekitar 22 hektar hutan tropis di dunia musnah di antaranya sebagian hutan di Sumatera dan Kalimantan. Setiap tahun, sekitar enam juta hektar hutan berubah menjadi lahan kritis.
Jadi, jangan heran kalau daerah-daerah yang dulunya tidak mendapat bencana kini mengalami bencana. Bukan tanpa sebab, ini akibat oleh kepentingan manusia itu sendiri. Ekosistem alam mereka ganggu, sehingga dahulunya hutan yang berfungsi menyimpan air di daerah aliran sungai (DAS), seperti kawasan pahuluan sudah mulai gundul. Sehingga hutan tidak berfungsi baik. Bahkan, kalau dibandingkan dengan zaman sebelum kemerdekaan atau tepatnya masa Kolonial Belanda, lebih masa kolonial dalam pengelolaan alam. Sekejam-kejamnya orang Belanda pada masa nenek moyang kita, lebih kejam orang-orang pribumi sekarang dalam pengelolaan alam.
Orang Belanda dalam mengekpolisasi kekayaan tambang di daerah Banjar masih memperhatikan kondisi lingkungan alam, dengan membuka lahan di daerah pegunungan di Pengaron. Sekarang pertambangan di Kal-Sel terutama batu bara sudah sangat memprihatinkan, hampir semua kabupaten sudah di kapling tanah-tanahnya oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam hal tambang. Mereka tidak peduli akan kelestarian lingkungan hidup, tambang batu bara yang sudah habis ditinggalkan begitu saja. Kata orang, yang melihat hutan kalimantan dari pesawat sudah tidak hijau lagi. Banyak daerah hutan sudah gundul, baik karena akibat ilegal logging maupun bekas area pertambangan.
Seperti kata sebuah artikel pada rubrik disebuah koran. Masyarakat kita tidak perlu kaya mendadak tetapi mengorbankan lingkungan dan membuat anak cucu kita menderita, apalagi yang kaya cuma sebagian orang. Dalam era Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional, untuk para pemimpin daerah janganlah terlalu menguras tambang batu bara yang ada di bumi kalimantan selatan ini. Boleh saja memanfaatkan sumber daya alam yang ada, tetapi harus penyeimbangannya. Jangan sampai daerah Kalimantan Selatan ini menjadi gurun pasir seperti di Afrika. Dan jangan hasil tambang alam ini di manfaatkan untuk kepentingan sendiri. Lebih baik digunakan untuk keperluan dalam daerah misalnya untuk bahan bakar listrik yang sering byar-pet.
Masyarakat Kal-Sel jangan terbuai akan keuntungan yang diberikan para pengusaha, baik itu pemerintahnya dan masyarakat sekitarnya. Kalau kita berpikir panjang pastilah kita tidak akan mengizinkan ekplolisasi kekayaan hasil tambang yang ada di daerah kita masing-masing. Secara ekonomi jangka pendek masyarakat banyak mengalami untung dari para penambang tersebut. Dengan pendekatan agama, para penambang tersebut membuat simpati warga masyarakat sekitar area pertambangan, mereka mendekati tokoh ulama dan tokoh masyarakat. Mereka membantu pembuatan mesjid, langgar, mushala, pesantren, dan lain-lain.
Lalu dimana letak masalahnya akan merugikan masyarakat, sedangkan dengan adanya kegiatan tersebut akan meningkatkan aktifitas keagamaan. Sekarang masyarakat dan pemerintah setempat harus berpikir, berapa anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan tempat ibadah tersebut yang keluar keluar dari para bos besar tambang. Kecil sekali dari keuntungan yang mereka dapat. Setelah masyarakat terbuai akan kenikmatan materi sesaat, para bos semakin kaya dengan menguras habis sumber daya alam yang ada di Kal-Sel ini. Mereka membeli apartemen, membangun rumah mewah pulau Jawa, dan berinvestasi dibidang lain.
Masyarakat tidak tahu berapa kekayaan daerah mereka telah dikeruk. Yang pasti mereka dapat hidup dengan nyaman dalam rumah batu mereka, bisa makan dengan enak, tidur ditempat tidur mewah (spring bed), bisa beli mobil. Setelah beberapa puluh tahun, alam mereka telah habis tambangnya, hutan mereka hancur, banyak lubang-lubang galian bekas area tambang. Lalu mereka pun kini telah berhenti sebagai pekerja tambang karena tidak ada lagi aktifitas pertambangan lagi. Uang pesangon mereka hanya cukup untuk 1 atau 2 tahun. Mobil yang dulu mereka beli dijual karena tidak sanggup lagi untuk membiayai pajak serta perawatannya.
Inilah kenyataan yang mereka hadapi, anak-cucu mereka menderita karena olah mereka sendiri. Mereka menikmati bencana yang dibuat sendiri, musim hujan kebanjiran musim kemarau kekeringan. Sedangkan para bos tambang dengan enaknya duduk-duduk, makan enak, jalan-jalan dengan hasil investasi mereka. Mereka hidup dengan nyaman di pulau Jawa, sedangkan kita hanya menikmati penderitaan, karena tidak pindah lagi. Mari masyarakat Kal-Sel jangan biarkan orang-orang luar mengelola tambang kita, mereka hanya ingin menguras kekayaan saja. Bukan ingin memajukan daerah Kal-Sel. Ayo bangkit masyarakat Banjar.
prof.dr.sufian akbar.msh.alm berkata,
Mei 19, 2008 pada 2:24 am
bagus juga,tapi kurang kerjaan aja