Culture River

April 30, 2008 at 9:07 pm (Tak Berkategori)

Culture River adalah kebudayaan sungai.

Permalink Tidak ada Komentar

April 18, 2008 at 3:20 pm (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Feb 24th, 2008 at 9:39 am

Assalamu’alaikum….. EWA

Mudahan saja tulisan saya tambah bagus dari yang pertama. Kalau melihat dari ilutrasi EWA tentang tiga wujud kebudayaan yaitu ideas, activities, dan artifacs. Yang EWA gambarkan dalam bentuk kebudayaan korupsi. Bahwa kebudayaan itu sudah ditanamkan sejak kita masih minum ASI. Lalu setelah besar, kita bawa pada kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Setelah menjadi manusia, akan terus terbawa pada hasil yang kita capai. Terlepas apakah budaya itu baik atau buruk bagi kita.
Kebudayaan adalah warisan sosial dari anggota-anggota masyarakat. Kebudayaan memang hal sulit untuk diubah. Apalagi telah menjadi milik sekelompok orang. Kita sulit mengubahnya, karena kebudayaan tersebut sudah mengakar pada pikiran orang-orang ini. Saya salut pada orang yang bisa mengubah suatu kebudayaan kurang baik menjadi baik. Kebudayaan yang baik bagi sekelompok orang belum tentu baik bagi kita.
Menurut saya pribadi, mungkin ada yang setuju maupun tidak. Hampir sebagian mahasiswa, memiliki kebudayaan tidak baik seperti membuat krepian dan nitip absen. Mungkin ini adalah warisan dari kakak senior mereka. Ini sangat tidak layak dilakukan, para mahasiswa sering menyuarakan hapus korupsi, berantas korupsi, adili koruptor, dll. Padahal ia sendiri secara tidak sadar telah korupsi absen. Maaf saja buat yang merasa.
Setelah mereka menjadi sarjana, lalu mereka menjabat sebagai kepala-kepala bagian, staf, maupun biasa saja. Kebudayaan ini terus dan terus terbawa. Bisa kita lihat pada sebuah acara tv, bagaimana para bapak dan ibu pegawai negeri yang keluyuran pada jam kerja. Isi absen pagi, lalu pergi entah kemana. Gampang-gampang susah buat mengubah kebudayaan yang tidak baik, mulailah dari kita sendiri. Oke….

reduanebarkaoi@yahoo.co.id

Permalink 1 Komentar

April 18, 2008 at 3:17 pm (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Feb 26th, 2008 at 9:59 am

Ass. EWA

Ethnography menurut pemahaman saya adalah tulisan tentang keadaan suatu bangsa yang ditulis oleh para penjelajah dari Barat. Mereka melihat suatu keanehan pada daerah yang mereka datangi. Baik dari kebudayaan, fisik, sifat, dll. Dari sinilah Ethnography muncul.
Ethnography pada fase pertama hanya bertujuan untuk menjelaskan keadaan tentang suatu daerah secara umum. Fase kedua tujuan mempelajari kebudayaan untuk dimanfaatkan, misalnya untuk penjajahan. Fase ketiga hanya untuk belajar, tanpa tujuan. Fase keempat kebudayaan dipelajari untuk membangun masyarakat.

Permalink Tidak ada Komentar

April 18, 2008 at 2:55 pm (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Mar 2nd, 2008 at 8:07 pm

Ass… EWA

Pada dasarnya kebudayaan berasal dari kepribadian induvidu. Ini dibentuk dari sejak kecil pada lingkungan keluarga. Bagaimana cara orang tua atau kakak mereka makan, bicara, bersikap. Individu akan menirunya…
Pada skala yang lebih besar. Kepribadian akan dibentuk oleh lingkungan masyarakat. Keadaan ini akan membentuk kebudayaan yang menjadi pola pikir masyarakat atau sosial sistem. Pada akhirnya kebudayaan ini menumpuk (akumulatif). Sehingga keluar sebagai aktifitas dan hasil hingga dapat di pelajari, dilihat, atau diraba.

begitu loe kata saya.

Permalink Tidak ada Komentar

April 18, 2008 at 2:52 pm (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Mar 2nd, 2008 at 8:40 pm

Ass… EWA

Wah soal kepribadian. Menurut buku yang saya baca, kepribadian/personality dibagi menjadi beberapa:
1. Kepribadian yang tersembunyi “bawah sadar” yang sewaktu-waktu bisa keluar dan meledak tanpa disadari.
2. Kepribadian yang tersembuyi “sadar”. Tetapi hanya disimpan tidak dikeluarkan. Karena mungkin tidak menemukan kata-kata yang cocok untuk mengungkapkannya. Bisa juga malu karena bila diungkapkan tidak diterima atau diremehkan.
3. Kepribadian yang tersembunyi “keluar” biasanya diungkapkan pada orang tua, saudara, keluarga, sahabat. Yang dianggap akan dapat memberikan solusi atau saran.
4. Kepribadian yang ditampilkan. Ini ditunjukkan agar mendapat simpati. Misalnya seorang mahasiswa pada dosennya, murid kepada gurunya, teman kepada temannya, dll. Agar mendapat keuntungan dari sikapnya itu.

Ehm, Ehm, Ehm.

Permalink Tidak ada Komentar

April 18, 2008 at 2:51 pm (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Mar 17th, 2008 at 4:08 pm

Ass… EWA

Difusi atau tersebarnya unsur-unsur kebudayaan ke segala penjuru bumi ini. Ada yang bisa kita sadari maupun tidak. Seperti kata EWA kita begitu bangga dengan apa-apa yang namanya berbau asing, entah makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain. Difusi dapat dilihat dari cara penyebaran dan sifat kebudayaan itu sendiri.
Difusi ada yang sifatnya sama atau tidak berubah bentuk kebudayaan dari tempat asalnya. Yang seperti ini dinamakan hubungan symbiotic. Bentuk yang seperti ini banyak kita temukan di kawasan Afrika, hubungan antara suku-suku bangsa Afrika dengan suku-suku bangsa Negrito. Di sini suku Negrito hidup dari meramu dan berburu sedangkan suku Afrika hidup dari berladang. Mereka saling bertukar hasil berburu dengan hasil ladang tanpa terjadinya proses pengaruh kebudayaan.
Ada lagi proses stimulus diffusion, penyebaran unsur-unsur kebudayaan ini berlangsung dengan perantara kelompok lain. Kelompok pemilik kebudayaan ini malah tidak berhubungan langsung dengan kelompok yang menerima kebudayaan tersebut. Kelompok yang menerima kebudayaan menyebarkan lagi pada kelompok lainnya. Sehingga terjadi difusi yang meliputi jarak yang besar melalui rangkai pertemuan deret suku-suku bangsa. Terima kasih. Wass.

Permalink Tidak ada Komentar

April 18, 2008 at 2:49 pm (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Apr 15th, 2008 at 1:08 pm

Ass…EWA
Kebudayaan itu pada dasarnya adalah ciptaan manusia yang berawal ide, lalu menjadi aktifitas, dan ada hasilnya. Kebudayaan akan berkembang dengan sendirinya, mulai dari discovery/penemuan. Setelah diterima akan menjadi invention, kemudian dijadikan inovasi bagi kreatif.

Permalink Tidak ada Komentar

Akulturasi

April 9, 2008 at 1:09 am (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Mar 30th, 2008 at 10:01 am

Ass. Wr. Wb…….EWA

Akulturasi yang berarti perpaduan dua unsur kebudayaan berbeda. Ini terjadi sejak pada masa lampau. Seiring dengan menyebarnya manusia ke seluruh permukaan bumi. Kebudayaan yang mereka dapat dari tempat tinggal asalnya tidak bisa bawa seutuhnya. Kebudayaan ini kemudian mereka bagi dan menyebar. Akulturasi dibawa oleh berbagai kalangan dan apa yang dibawa berbeda pula.
Di Indonesia akulturasi terjadi sejak zaman Hindu-Budha. Sebelum kedatangan agama ini, wilayah nusantara menganut agama nenek moyang Aninisme dan Dinanisme. Pada masa kedatangan agama Hindu-Budha, mereka menerimanya. Akan tetapi agama nenek moyang tidak sepenuhnya mereka tinggalkan. Bisa kita lihat pada fungsi candi, kalau di tempat asalnya candi hanya sebagai tempat pemujaan. Di nusantara candi juga berfungsi sebagai tempat pemakaman raja-raja.
Dalam proses akulturasi tidak semua golongan menerimanya. Ada yang hanya dari golongan-golongan atas yang menerimanya. Ada yang dari golongan bawah menerimanya. Ada yang sulit menerima unsur kebudayaan baru, ada yang mudah menerimanya. Dari yang sulit dan mudah menerima inilah yang akan menjadi embrio culture change.

Permalink Tidak ada Komentar

Asimilasi

April 9, 2008 at 1:06 am (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Mar 31st, 2008 at 4:19 pm

Ass…Ewa
Dari pemaparan di atas tentang asimilasi. Saya menarik kesimpulan bahwa asimilasi merupakan kumpulan kelompok manusia dengan latar budaya yang berbeda pula. Mereka hidup di wilayah yang sama dalam jangka waktu yang lama. Lambat laun kebudayaan pun akan berubah secara bertahap. Perubahan-perubahan ini menimbulkan kebudayaan baru yang khas.

Adanya kebudayaan baru ini disebabkan kebudayaan mayoritas memberikan pengaruh kepada kebudayaan yang minoritas. Sehingga mau tidak mau kebudayaan ini harus menyesuaikan dengan kebudayaan yang lebih besar. Artinya kebudayaan yang unggul akan menggeser kebudayaan yang ada di bawahnya

Permalink Tidak ada Komentar

Inovasi

April 9, 2008 at 1:00 am (Komentar Ewa)

Riduan Saidi Apr 7th, 2008 at 1:18 pm

Ass…Ewa

Manusia hidup tidak selama monoton atau itu-itu saja. Pasti akan ada terjadi perubahan. Perubahan ini berlangsung lama, dalam hal ini ada tahapan-tahapannya seperti kata Ewa. Tahapan ini dimulai dengan hal yang kecil lalu kelamaan berubah menjadi besar dan timbul hal yang baru yang dinamakan inovasi.

Permalink 1 Komentar

« Tulisan sebelumnya